Tampilkan postingan dengan label Rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Februari 2011

Prasasti Januari

: Flip-floper88

Berjalanlah perlahan ayunkan langkah menyusuri jalan setapak tanah merah diantara rerumput mulai menghijau menuju kawanan pinus melambai hangat, Batu Kuda. Hentikan sejenak langkah itu dan tataplah sekeliling. Lihatlah pinus-pinus begitu tegar oleh terpaan angin, guyuran hujan, sengatan mentari. Pandangilah permukaan bukit yang berkelok. Dengarlah gemericik sungai memperkenalkan bening dan sejuknya. Sentuhlah dengan lembut airnya, rasakan dinginnya hingga merasuk dalam nadi. Syahdu memang alam ini.

Langkahkan lagi telapak kaki menuju bukit di atas. Dan tanjakan terjal itu lalui saja. Meski nafas terasa sesak tersengal, lalui saja. Hingga tiba di hamparan sempit punggungan Manglayang. Hempaskan lepas letih itu. Rebahkan saja di atas hijau dan pandangi panorama di bawah. Bukankah hamparan sawah dan deretan Patuha, Malabar, Guntur, bahkan Cikuray terlihat indah. Layaknya lukisan, selalu memanjakan pandangan. Namun, jika ingin, mendekatlah dengan Guntur. Rabalah dengan nyata, ternyata gersang kerontang.

Itulah ruang nyata kehidupan, diantara spektrum warna yang tidak selalu mengkilat, juga tidak selalu kelabu. Ya... hitam, putih, abu, biru, kuning, merah, hijau, dan warna lainnya.

Jangan dulu beranjak dari rebahmu! Pejamkan sesaat kelopak mata. Bayangkan lebih jauh ke negeri matahari. Nampak Sakura sedang berguguran tak menyisakan daunnya. Tapi, bukan mati. Begitulah alurnya. Seperti cakram yang berputar...

Sudah terasakah?

Kini biarlah menjadi kaleidoskop antara januari dan januari. Episodenya menjadi catatan sendiri yang dirangkai dalam sebuah cerita, meski hanya sebuah cerita. Bukan untuk mengundang sesal, dan tak perlu ada sesal. Cukup dengan senyuman.

Saat berselimut oleh dinginnya Bandung Utara, lalu berkendara sampai Ciamis, bercengkrama dengan ombak Pangandaran. Hingga menepi jua dalam rumah tua yang mulai koyak di ujung barat pulau Jawa. Dan pecahan mozaik yang lain biar dirangkai dalam bingkai diorama ketika itu, ya... ketika itu. Walau hanya ketika itu.

Jika pernah mendengar cerita seorang pendaki. Dalam impiannya menapaki beberapa puncak gunung. Namun sang pendaki tak selalu sampai. Pernah, ketika berharap puncak Gede-Pangrango, membelai mesra hamparan alun-alun Suryakencana, memetik gemulai Edelweiss. Tapi tertahan di Air Panas, bahkan tak pernah melewati Kandang Badak. Itulah perjalanan, itulah pendakian.

Mulailah resapi.

Atau seperti legenda Sangkuriang. Memecah Burangrang dan Tangkuban Parahu oleh bentangan Situ Lembang. Dan itu hingga kini, mungkin juga hingga seabad lagi. Tinggal legenda, ya... melegenda.

Meski pendaki tak mengenal lelah, biar terjal. Walau deduri, binatang buas, atau ditelan jurang. Terus mendaki hingga tiba ujung lancip, menyambut sunrise.

Bukan menyerah, bukan pula melempar asa, bukan tak berasa. Hanya dalam permenungan kaki gunung Pulosari. Membuka-buka novel setahun, menatap tajam bentangan samudera Hindia dari Muara Binuangeun. Ini bukan kovalensi melebur. Bagai Arktika dan Antartika saja, derajat yang melintang ke utara dan selatan, dunia yang berbeda. Meski harap dan gerak berkemul padu, mencoba memagut simpul. Simpul abadi. Hanya menanti gerhana. Gerhana keajaiban.

Dan ini pendakian Burangrang dari jalanan Parongpong melalui jalur Paku Haji, hingga tiba di ujungnya. Tugu triangulasi. Mereka mengenang pendakiannya lewat tugu triangulasi di puncak Burangrang. Hanya sebuah kenang. Biar saja adanya.

Permenungan...

Sebuah kata mulai gentayangan dalam ufuk relung, sesal. Remas seperti kertas penuh coretan, lalu lemparkan ke Kawah Ratu. Biar hangus hancur mengabu. Karena memang tak perlu ada sesal. Atau air mata ungkapan kesedihan. Jika layu, layulah sejenak. Jika jatuh, jatuhlah daun Sakura. Sesaat, sesaat. Karena kita menggenggam lentera. Lentera abadi yang benderang oleh minyak Zaytun.

Tersenyumlah...

Lihatlah Rinjani masih tegap berdiri. Berjalanlah, berlarilah melewati Ranu Pane dan Ranu Kumbolo. Jadilah tebing Kiara Payung, atau Karang Bolong, tak goyah oleh hantaman ombak Selat Sunda.

Dan ini menjadi prasasti: Prasasti Januari.

Dirangkai: 31 Januari 2011

Oleh:

Ilalang Jayagiri

Di Pesisir Pantai Barat

Menghirup Aroma Dunia

Semerbak silau menusuk liur
Aroma kesan bertahta angka
Dari jemari hingga dahi
Menjadi bara obsesi rasa

Meski liku dalam pena
Telapak kaki tetap menjejak
Lumpur prestise dalam kacamata
Sekedar lalu oleh kedipan

Berapa harga dunia?
Menjadi uap bersama nafas
Hinggap kala waktu berdenting
Sekedar kesan; rasa belaka

Ya, bahkan nilai tak lagi definitif
Terkubur sebentuk astana kitab
Karena aroma ini harum membius
Meski antara busuk dan mahkota

Bahkan untukmu
Menjadi nisan berukir: Aku

7 September 2010

Minggu, 16 Mei 2010

Terbakar di Pagi Buta

Alam ini penuh misteri, antara rasio probabilitas dan kausalitas
Hukum thermodinamika tetap berlaku, begitu pula imajinasi
Raga memang berpijak di atas permukaan nyata, kasar-statis
Jiwa tetap larut bersama angin dan desiran ombak rendah

Bulan memang terbit saat senja memulai episodenya
Hilang, saat fajar mulai berdenting layaknya agenda harian
Datanglah mentari dengan sorotan nyata dan kokoh
Mewarnai gulita mencekam dalam laju gerak langkah

Waktu tak kalah misterius, datang dan pergi kapanpun
Bahkan saat aroma tak seharum mawar yang baru merekah
Angin kayangan berembus mendekat, menghampiri ruang renung
Tak terbantahkan layaknya sebuah postulat bahkan undang-undang

Tak sekedar melukiskan imaji, membingkai seperti lukisan dinding
Saat hujan bergemericik tanda gerimis
Embun pun masih saling merangkul bersama ilalang
Udara belum beranjak hangat, masih berkawan kabut

Tapi emosi terlanjur terbakar angin kayangan
Tak mampu dipadamkan oleh sekedar percikan air
Semakin menyatu bagai terdapat kovalensi
Menjadi gusar dalam dunia statistika dan matematika

Tak tentu arah
Terbakar di pagi buta

9 Januari 2010, 22:31
‘tak terkhayalkan sebelumnya’

Sindrom Alexandria

Di tengah Sahara terbakar terik surya, jingga
Melangkah bersama dahaga memegang tongkat Cendana
Selalu ditancapkan dalam setiap derap menjejak
Mencari sebongkah oase mencair melumuri kerongkongan

Namun di negeri Mesir, dan ini masih di Mesir
Di antara rekaman-rekaman dokumentasi sejarah
Kumpulan piramida tetap memukau pelancong kesan
Patung Sphinx masih menjadi kohesi tak terbantahkan

Dan ia pejalan kaki di padang gurun –masih di Mesir
Tatapannya selalu terbentur fatamorgana sebentuk Niagara
Yang dahulu terbentang laut merah menjadi demarkasi
Hanya sebatas hembusan angin senja ketika punggung bersandar

Ini dunia waktu dan dimensi, bukan fiksi dari khayalan
Angin tak pernah berhenti menari, sekalipun iklim berotasi
Menggiring ombak tawar dan laut bermuara mendekat. Payau
Ia benar-benar berada di Mesir, tempat piramida itu

Dimensi ini bukan cuplikan dalam tidur –yang menghilang
Tetapi nyata teraba oleh indra dan benar kohesif
Seperti berada di Malang dalam sebuah pendakian terencana
Dunia rimba, dunia Semeru dalam agenda petualangan
Dan ia bagai mengenakan wind breaker menggenggam veldplest
Bahkan ia masih berada di Mesir, di tengah Sahara

Aroma Semeru begitu semerbak benar-benar nyata
Bahkan di atas pasir vulkanik puncak Mahameru
Akhir pendakian pulau Jawa, menunggu sunrise
Ingat! Waktu hanya sampai sepenggalahan
Atau kepulan asap sulfur meracuni haemoglobin
Lalu... Mati. Mati Soe Hook Gie

Masihkah ia pejamkan mata, rapatkan bibir
Sedang ia masih berada di Mesir

24 September 2009

Titik Triangulasi

Ketika kepulan asap menghitam
Memenuhi ruang renung sudut jiwa
Berputar-putar mencari celah
Melepas kemelut dua warna

Panorama hijau terbentang nyata
Membuka nyanyian yang lalu
Dimana aku tertegun sunyi
Menikmati kontemplasi bahasa diri

Hingga semakin dekat
Dipacu hasrat naluri
Kenyataan identitas
Seorang penjelajah rimba

Tamanku tempat menaruh cerita
Belukar sahabat lama
Tebing terjal penopang semangat
Vegetasi liar tak tergantikan

Terlalu lama tak menyapa
Seakan tak pernah bertatap
Hilang dalam situasi
Hanyut bersama darah perjalanan

Esok... Aku datang
Burangrang. Di titik triangulasi

29 September 2009, 00:27
‘taman jiwa, kusapa engkau kali ini’

Antara Merah dan Hijau

Pagi ini embun bergelayut di ujung-ujung ilalang
Setelah tersapu oleh kata-kata sepanjang malam
Mulai menyejukkan setiap helai rambut kering
Sesejuk Telaga Biru di kala jarum jam mulai berputar

Malam-malam yang lalu tak mampu memejamkan mata
Hanya monolog memenuhi hipotesa-hipotesa subjektif
Membara, walau tak pernahtahu di mana ada api
Membeku, walau suhu bukan nol derajat celsius

Sepasang mata yang lain berkedip-kedip di hadapan
Meneropong arah mata angin dalam perspektif kompas
Aku memandangi laju jarum kompas
Bergoyang-goyang menunjuk dua kutub, utara-selatan

Alibi-alibi berkomentar dari berbagai penjuru
Tak sekedar hitam dan putih
Melukiskan warna-warni pelangi selepas rintik gerimis
Logika semakin berputar-putar mencari lembah

Di mana Suryakencana?
Di mana Mandalawangi?

Tetapi drama teatrikal menjadi percakapan
Menyimpulkan informasi-informasi investigasi
Semakin nampak menghijau
Meski diantara merah dan hijau

1 Oktober 2009, 08:12
‘memacu langkah’

Sabtu, 15 Mei 2010

Terjerat

Sesaat iklim membiru
Dari sambaran petir
Gulita...

Telaga memancarkan keruh
Dalam bingkai dilema
Berkabut...

Menunggu mentari terbit
Tanpa hitungan detik
Resah...

Nalar tercekik ekspresi
Di atas ranjau aktif
Terjerat...

Nuansa semakin hingar
Terjebak lagu sendiri
Sesal...

Hingga esok memandangi
Tetap telah kadung
Terjerat...

18 Februari 2010, 23:08
~menjadi dilema

Telak

Oleh: Aira Antartika

Aku heran dengan situasi
Aku heran dengan emosi
Aku heran dengan mimpi
Aku heran dengan ironi
Aku heran dengan simpati
Aku heran dengan hati

Begitu telak mendepakku
Heran...

28 Mei 2009
~singkat sebelum midnight

Galau

Kala kelopak mata tak mau memejamkan dirinya
Beribu bayangan masih saja bergelayut di alam kontemplasi
Berputar-putar seakan tak rela raga ini terlelap
Bahkan semua warna saling berpegangan membentuk lingkaran

Satu warna bernama tanggung jawab
Warna yang lain memperkenalkan dirinya sebagai: cita-cita, dilema sosial, cairan lambung, gubuk teduh, catatan intelektual, kupu-kupu, dan nama-nama yang selalu ingin dikenal dalam database jiwa

Entah mana yang harus disapa terlebih dahulu
Jika melihat dengan perspektif manusia usang
Karena semua merantai rasa seorang manusia
Seperti setiap manusia dengan mengabaikan sinar

Tetap saja jarum jam berdetik melaju ke kanan
Melahap masa dan usia, semakin bertambah
Tak kenal lelah, tak pernah peduli perkataan siapapun
Terus melaju tanpa ada yang menghalangi

Semakin bodoh, jika berharap seperti negeri imajinasi
Mampu menahan laju waktu untuk beberapa saat
Hingga dapat menyandarkan punggung rapuh pada batang pohon rimbun sambil menghela napas dengan perlahan
Lalu memejamkan mata sekejap saja
Membuang jauh galau yang bersemayam di urat nadi

Ada kalanya manusia -tanpa membedakan warna diri- seperti ini
Namun sinar tetap utuh dalam lentera abadi
Hanya ketika merasa galau

16 November 2009
23:53

Fatamorgana

Masih terjebak di bawah terik surya
Di hamparan gurun Ghobi
Panas membara hingga titik didih
Merasuk hingga ke alveolus

Terasa benar sisi manusia
Goyah, lemah oleh energi
Hingga tak mungkin luput
Karena begitulah tanah

Telapak kaki melepuh benar
Suhu terasa di atas 100 derajat celcius
Tak ada mineral, dehidrasi
Pandangan pudar, paradoks
Fatamorgana

Seperti di bawah pengaruh hipnosis
Melihat palsu gemintang
Fatamorgana

Jangan hanyut
Tak ingin tenggelam
Tetap berjalan di atas air
Hiraukan
Fatamorgana

- 2 Oktober 2009, 05:00
~kembali bertanya

Jumat, 14 Mei 2010

Hilang

Alur memang cepat berubah
Seiring berputarnya jarum jam
Bagai angin tepi pantai
Bias

Saat bernama Aku
Tak peduli badai menggoncang
Singa mengaum buas
Hanya nyanyian sumbing

Alur memang cepat berubah
Seiring berputarnya jarum jam
Bagai lilin dalam gelap
Leleh

Aroma yang dahulu pasi
Membius waktu
Seiring berputarnya jarum jam
Nyata

Menggumpal memadati arteri
Membeku kaku
Merusak mimpi
Menggoyahkan indera keenam
Luntur
Hilang
Kembali

- 1 Oktober 2009, 23:31
~ miris dengan kenyataan