Tampilkan postingan dengan label Hanyut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanyut. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Mei 2010

Sebuah Nama, Semakin Bodoh

Oleh: Aliva Wilda R

Rasa bagai gerimis
Hinggap bagai lebah
Manis atau sengatan
Padu...

Waktu adalah catatan
Tersimpan rapat dalam rekaman
Bukan sebatang rokok
Hilang...

Raga tetaplah raga
Emosi tetaplah emosi
Sisi manusiawi
Kental...

Menjadi parasit dalam darah
Menghitam, kaburkan merah
Sekali ini. Tak pernah ada
Siapa? Mengapa? Bagaimana?

Selalu...
Semakin bodoh
Sebuah nama: Marsha

29 Maret 2010, 00:33
~sebuah pertanyaan, siapa?

Suara Langit, Senandung Bumi

Oleh: Aliva Wilda R

Langkah layu mengiringi laju waktu, terasa melambat-merenggang
Angka-angka jam dinding mulai bernyanyi, kata demi kata
Jarak tak lagi menampakkan definisinya
Karena kicau tak hanya menjelang malam
Selalu...

Teriakanmu semakin bergema hingga tak ada lagi ruang
Menjerat mati semua suara, erat menyimpul beku
Rayumu semakin nyata hingga tak ada lagi warna
Memaksa darah ini menjadi hitam mengental

Klimaks sudah senandungmu, ego saja
Dan aku kaku, gemetar
Tak ingatkah arti waktu, ruang, menunggu?
Dan aku terpojok di sudut bisu

Sadarkah?
Awan berada diantara tanah dan langit
Senandungmu hipnosis
Namun suara langit gelegar petir

Aku masih bisu antara bumi dan langit
Gravitasi dan kepakan sayap
Bermainlah dengan waktu!
Larut...
Kelak kau temukan!

Ini dariku

4 Mei 2010, 23:33
~semakin kusut

Angin pun Berhembus, Menanti Hujan

Di bawah terik mentari tergopoh layu sambil tetap berjalan
Dua kaki dirantai dengan material platinum bersuhu di atas 6000
Kedua mata diselimuti warna biru mengaburkan pandangan
Alam pun bak fatamorgana, terbius rasa

Kutilang tak berhenti berkicau
Memenuhi sudut telinga
Menari-nari, berputar-putar di atas kepala
Namun tetap terbakar terik mentari

Dalam ruang sempit mencoba terasing
Menahan laju emosi yang kian merasuk
Menjadi buta dan tuli, hilang
Tetap menggigil oleh angin suhu rendah
Selalu berhembus menembus dimensi ruang

Angin pun berhembus, menanti hujan
Musim menampakkan arahnya
Sambil menunggu habis kemarau
Dimensi lain kehidupan membatasi langkah

Dapatkah tetap tegak melawan waktu
Atau hilang menuju rimba
Merangkai bivak, duduk tersila
Memegang sebatang rokok
Menyandarkan lelah perjalanan

Ya... Kelemahan jiwa
Selalu menjadi hantu
Menjebak dalam jerat
Meski angin berhembus, menanti hujan

29 Januari 2010, 02:10

Pertanyaan-pertanyaan

Manusia bernapas, bernyawa, dan selalu menyulam logika
Bercampur padu dengan dorongan-dorongan emosi
Semua terhimpun dalam ruang kecil seluas langit tak berujung
Terkadang menjadi tantangan teka-teki, juga sekedar berwujud penat

Layaknya jiwa, alampun hidup. Berputar menari-nari bersama wujud
Demikian juga waktu, ruang, peristiwa, dan informasi komunikasi
Selalu melantunkan melodi situasi dalam setiap momen terbentuk
Menghembuskan milyaran suara dan nada-nada terangkai

Harmoni ketukan not angka selalu menjadi nyanyian
Berbentuk lagu yang berdansa hingga ujung telinga
Merasuk ke dalam ruang sempit bernama logika
Bersintesis menjadi sketsa pertanyaan-pertanyaan

Hingga...
Bernama informasi yang menjadi cerita non fiksi
Cerita mereka, entah di mana sumber cerita itu

Apakah angin lembah telah berhembus?
Apakah iklim rimba sama terasa sejuk?
Apakah rerumputan seperti kupu-kupu gemar menari?
Apakah cerita itu berdialog, berkonduksi kerabat dekat?

Dan menyimpul kusut dalam logika
Menjadi pertanyaan-pertanyaan
Semoga saja!

27 September 2009, 22:55

Sempat Hadir

Batas graduasi telah dihantam keping baja
Letupan-letupan reaksi oksidasi dalam bejana vakum
Klimaks sudah...

Sedang, membisu menghela halus di pertapaan
Menjadi gaduh, mengurai renungan-renungan

Benar-benar seorang diri
Padang ilalang bersama fauna rimba di hadapan selaput realita
Bukan perbukitan tempat tenda-tenda terpancang
Tanah merah...

Raga tak dapat lagi dilukiskan dalam sinema
Menyisakan maya yang sempit, gulita memang
Dunia monolog, dunia egosentris
Sepi...

Saat sekejap terlelap dalam sapaan
Byte-byte memori tanpa elektron
Sebuah desain itu tergambar
Benar, bukan coretan abstrak
Mungkin dan memang benar!!! Teridentifikasi

Perdana dalam momentum hampa
Semakin bosan, kesat, traumatik

Belenggu klasik yang menyimpul erat
Memojokkan emosi hingga mendesak nalar matematika, berontak!!!
Menginginkan restorasi: seorang prajurit

15 Maret 2010, 22:30
~kedatangan pertama di ruang malaikat dan setan bertaruh, ‘bawah sadar’

Sabtu, 15 Mei 2010

Meracuni Detak Nadi

Oleh: Aira Antartika

Kala angin begitu halus mengusap raga dan jiwa
Ayunan langkah menjadi kaku dan membeku
Saat ranjau aktif diantara telapak kaki
Tubuh ini mulai diusap cuaca berkabut, menggigil

Aroma yang terendus begitu tajam
Di tengah kecamuk dua kutub
Tak dapat diinterpretasikan
Harumnya hawa Bvlgari Aqua
Atau sesak asap vulkanik Mahameru mematikan

Seakan mencekik nafas tersengal
Memang mencekik ribuan dendrit
Meracuni pandangan langit
Memenuhi ruang konsep peperangan

Siapakah provokator isu dalam darah?
Membuat mata tak bisa terpejam
Bukan karena dikawani sebatang rokok
Atau secangkir kopi menyusun blueprint

Seperti racun yang membunuh perlahan
Memberikan efek psikotropik
Menyiksa bukan dengan tajamnya pedang
Tapi bara logam yang dibakar
Ditempelkan tepat pada jantung

Candu...
Kejam...
Mengapa tak kau bunuh saja
Atau ingin kukatakan
Enyah...
Jauh...
Pergi...
Teriakan yang bukan sebenarnya
Racun! Racun! Racun!

30 Mei 2009
midnight

Bayang-bayang Semu

Oleh: Aira Antartika

Masih bersama angin berselimut dilema asa
Menatap masa dalam sunyi ruang hati
Diantara bisikan arah dan ucapan bisu
Terdampar di persimpangan terkujur tanpa kata

Setiap pijakan telapak kaki adalah persimpangan
Ini persimpangan yang lain dalam tema klasik
Antara terucap atau tetap menyayat syaraf tubuh
Bayang-bayang semu kembali hinggap dalam arteri

Lukisan itu begitu tampak bukan konsep
Tidak diantara nama-nama dalam catatan
Hanya sebuah bingkai berisi cahaya nyata
Selalu menggelayut dalam dendrit hitungan waktu

Jika sebentuk wujud saja dalam kotak terkunci
Jika angin berembus deras menghanyutkan jiwa
Jika sunyi mulai meninggalkanku tanpa pesan
Jika jalanan bebatuan rimba tak mau menyapa

Telak...
Menampar relung emosi yang gundah
Tak ada kicau burung-burung hutan
Tak ada sapa daun-daun belukar
Tak ada hangat naungan tenda dan dingin
Tak ada semangat ransel dan balaclava

Ta...
Apakah hitam atau putih?

Catatan hening di kala senja menghampiri

28 Mei 2009
pra midnight

Siapa?

Oleh: Aliva Wilda R
-untukmu Wiek

Hadir saat bintang berkelip dalam pekatnya malam
Ketika tangan-tangan menggenggam belati
Dalam ruang pendakian sejati
Masih mengayuh sampan putih, suci

Kau percikan pecahan-pecahan api
Tepat di pelupuk mata, nyata
Siapa?

Langkahmu pasti -satu arah
Bukan merangkak, bahkan terasa berlari
Merasuki haemoglobin
Apa?

Senandungmu terbakar warna
Meraba-raba lamunan
Menatapku tajam
Mengapa?

Bukankah lantunan lagu tentang waktu telah terang?
Egomu tak mau merebah

Haruskah menampar senyum itu?
Hendak lari? Berlarilah!

Mungkin... Aku hilang sejenak
Tetap bisa tertawa

- 4 Mei 2010, 00:00
'tak mampu lagi bermetafora'